Scroll untuk melanjutkan membaca
BREAKING NEWS

Tragedi Pasar Cisoka Meledak, Ketum LSM Seroja Indonesia: "Tata Kelola Perumda Pasar Bobrok, 19 Pasar Hanya Setor 400 Juta, Copot Dirut!"



Reporter: Andi F



chaneltipikorbanten.com

Tangerang- Jerit histeris dan kepulan debu mewarnai kawasan depan Kantor Kecamatan Cisoka sejak Kamis (18/06/2026).

Langkah represif diambil oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang yang mengerahkan tim gabungan berskala besar.

Mulai dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), TNI, hingga Polri, berbondong-bondong merangsek ke lokasi dengan membawa alat berat.

Tanpa kompromi, ruang nafkah para pedagang kecil Pasar Cisoka yang telah bertahan puluhan tahun di atas lahan milik pribadi tersebut diratakan dengan tanah.

Eksekusi paksa ini menjadi puncak gunung es dari "bom waktu" kegagalan tata kelola pasar di Kabupaten Tangerang yang sengaja dibiarkan berlarut-larut selama beberapa dekade.

Kebijakan relokasi masa lalu yang cacat konsep kini mengorbankan rakyat kecil demi ego birokrasi, memicu konflik horizontal dan vertikal yang tak kunjung menemui titik temu komprehensif.

Menanggapi tragedi kemanusiaan dan ekonomi ini, Ketua Umum LSM Seroja Indonesia, Taslim Wirawan, S.H., angkat bicara dengan nada keras.

Berdasarkan kajian mendalam dan temuan valid di lapangan, Taslim membongkar akar masalah mengapa para pedagang memilih bertahan di luar ketimbang masuk ke pasar resmi yang dibangun oleh Perumda Pasar Niaga Kerta Raharja Kabupaten Tangerang.


"Akar masalahnya bukan pada pembangkangan pedagang, melainkan pada keserakahan sistemik! Bagaimana mungkin pedagang kecil mau masuk jika biaya sewa kios dan lapak dipatok mencekik leher?"

"Belum lagi penerapan parkir berbayar yang mengusir minat pembeli secara perlahan, serta tata kelola listrik yang tidak masuk akal hingga membebankan biaya penerangan selangit kepada pedagang. Ini bukan pembinaan pasar, ini pemerasan berkedok retribusi!" cecar Taslim dengan nada geram.

Taslim menilai sangat tidak adil jika Pemerintah Kecamatan Cisoka dijadikan tameng atau pihak yang disalahkan atas carut-marut ini.

Dampak dari kegagalan dan kebobrokan Perumda Pasar Kabupaten Tangerang, tegasnya, justru dilemparkan ke pundak aparat kecamatan dan pedagang.

Lebih jauh, pria berlatar belakang hukum ini menuding ada yang "tidak beres" di dalam tubuh manajemen Perumda Pasar Kabupaten Tangerang.

Ia mendesak Bupati Tangerang untuk segera mengambil tindakan radikal, termasuk mencopot jajaran direksi yang dinilai mandul prestasi.

"Yang wajib dievaluasi total dan diseret ke meja pemeriksaan adalah kinerja manajemen Perumda Pasar! Kami mencium aroma inefisiensi yang sangat akut. Bayangkan, mengelola sekitar 19 pasar di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang, tetapi pendapatan daerah yang disetorkan konon hanya berkisar antara Rp300 juta hingga Rp400 juta per tahun."

"Ini angka yang sangat menggelikan dan melukai akal sehat! Kemana aliran uang selama ini? Kami mendesak dilakukan audit forensik menyeluruh oleh BPK, dan copot Direktur Utama Perumda Pasar sekarang juga karena terbukti gagal total dan hanya menyengsarakan masyarakat!" tegas Taslim tanpa ragu.

Atas situasi yang kian memanas di lapangan, LSM Seroja Indonesia mengeluarkan maklumat keras kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk segera menghentikan segala bentuk tindakan represif yang menggunakan kekuatan aparat bersenjata melawan rakyat yang hanya mencari sesuap nasi.

Solusi yang dihadirkan harus berupa dialog yang memanusiakan manusia, bukan penggusuran paksa yang menciptakan kemiskinan baru.

Penggusuran Pasar Cisoka bukan sekadar cerita tentang pembersihan tata ruang, melainkan cermin retaknya empati penguasa terhadap wong cilik.

Di balik setiap beton yang runtuh diterjang alat berat, ada harapan keluarga yang hancur dan masa depan anak-anak pedagang yang mendadak buram.

Pemerintah daerah tidak boleh lupa bahwa esensi dari pembangunan adalah menyejahterakan rakyat, bukan menyingkirkan mereka demi estetika semu korporasi.

Selama keadilan ekonomi tidak ditegakkan dan transparansi Perumda Pasar tetap dibiarkan gelap gulita, maka konflik serupa akan terus membakar sudut-sudut lain di Kabupaten Tangerang.

Rakyat tidak butuh unjuk kekuatan aparat; mereka butuh perut yang terisi dan jaminan hidup yang layak di atas tanah mereka sendiri.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar