Benteng Perlawanan di Jalan Raya Serang: Ratusan Buruh Kepung PT Doga Group Internasional Sejak Pagi Buta
Reporter: Andi F
chaneltipikorbanten.com
Tangerang - Gelombang amarah kaum buruh akhirnya pecah di koridor industri Cikupa.
Sejak Selasa pagi (23/06/2026) tepat pukul 07.00 WIB, ratusan buruh yang tergabung dalam Pengurus Komisariat Federasi Serikat Buruh (PK FSB) KAMIPARHO KSBSI resmi melumpuhkan gerbang utama PT Doga Group Internasional yang terletak di Jl. Raya Serang Km 17,2, Desa Bojong, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang.
Aksi unjuk rasa dan mogok kerja ini menjadi klimaks dari kebuntuan panjang (deadlock) setelah pihak manajemen dituding terus mengabaikan hak-hak normatif karyawannya.
Di bawah kawalan ketat aparat dari Polres Kota Tangerang, Polsek Cikupa, dan Koramil setempat, para pejuang nafkah ini memadati jalanan, mengubah aspal panas menjadi mimbar perlawanan dengan bentangan spanduk kecaman, poster tuntutan, serta kibaran bendera organisasi yang membelah langit Cikupa.
Berdasarkan surat pemberitahuan resmi bernomor 002/Mgk- pk fsb kmph/ksbsi/VI/26, aksi kelola rasa yang dipicu oleh matinya jalur diplomasi ini dipastikan akan terus bergulir dan mengepung pabrik selama tiga hari berturut-turut hingga Kamis, 25 Juni 2026 mendatang.
Aksi heroik yang dimulai sejak pagi buta ini bukanlah tanpa alasan. Ini adalah akumulasi kekecewaan mendalam setelah aksi serupa pada 2 Juni 2026 dan mediasi di Dinas Tenagakerja Kabupaten Tangerang pada 4 Juni 2026 tidak menghasilkan apa-apa selain janji kosong. PT Doga Group Internasional dinilai tetap bergeming.
Ada dua tuntutan krusial yang digelorakan dari atas mobil komando: Mendesak PT Doga Group Internasional segera membayar upah pekerja sesuai Surat Keputusan (SK) Gubernur Banten, yakni sebesar Rp 5.210.377 (Lima juta dua ratus sepuluh ribu tiga ratus tujuh puluh tujuh rupiah) per bulan.
Menolak keras keberadaan sistem outsourcing di lingkungan PT Doga Group Internasional yang dinilai merampas kepastian masa depan pekerja lokal.
Dari atas mobil komando yang membelah barisan massa sejak pukul 07.00 WIB, Ketua PK FSB KAMIPARHO KSBSI PT Doga Group Internasional sekaligus Koordinator Aksi, Samat, membakar semangat para buruh yang mulai bermandikan keringat.
"Sejak jam tujuh pagi kami sudah berdiri di depan gerbang ini, mengetuk hati manajemen yang telah mati rasa! Aksi hari ini adalah bukti nyata bahwa kesabaran buruh ada batasnya. Kami sudah ikuti jalur mediasi di Disnaker, tapi apa hasilnya? Mereka tetap menutup mata! Membayar upah sesuai SK Gubernur itu kewajiban hukum, bukan belas kasihan korporasi."
"Kami tegaskan dari luar pagar ini, kami tidak akan mundur satu langkah pun dan akan terus bertahan sampai manajemen memberikan apa yang sah menjadi hak kami!" pekik Samat dengan suara lantang yang menggelegar di tengah riuhnya perangkat aksi, didampingi rekan korlap Pandu Suta Laksana.
Eskalasi perlawanan di lapangan ini mendapat pengawalan ketat dan dukungan penuh dari jajaran pengurus cabang.
Ketua DPC FSB KAMIPARHO KSBSI selaku Penanggung Jawab Aksi, Alamsyah, menegaskan bahwa kehadiran massa sejak pagi hari ini barulah awal dari sebuah perlawanan panjang jika manajemen tetap keras kepala.
"DPC FSB KAMIPARHO KSBSI mengawal penuh keringat kawan-kawan yang berdemo sejak pagi ini. Ingat, menggaji buruh di bawah ketetapan SK Gubernur Banten adalah pelanggaran hukum pidana ketenagakerjaan yang sangat serius! Ditambah lagi sistem outsourcing yang mencekik. Hari ini kami buktikan komitmen kami."
"Jika dalam tiga hari ke depan manajemen PT Doga Group Internasional masih menunjukkan keangkuhannya, jangan salahkan kami jika gelombang massa yang jauh lebih besar akan datang dan melumpuhkan total aktivitas industri di sini. Ini manifesto perjuangan kami!" tegas Alamsyah dengan nada bergetar menahan amarah keadilan.
Hingga berita ini diturunkan, orasi-orasi tajam masih terus berkumandang di depan gerbang PT Doga Group Internasional.
Publik kini menanti, apakah ketukan melodi perlawanan dari 100 buruh di Jl. Raya Serang ini mampu meruntuhkan dinding ego manajemen, ataukah konflik industrial di jantung Tangerang ini akan menggelinding menjadi bola api yang kian tak terkendali.
.png)

